APA ITU GURU ?

Menjadi seorang guru tidaklah semua orang dapat menjalaninya, dan tidak semua orang yang mengaku menjadi guru bisa menempatkan posisi perannya sesuai dengan yang dibayangkan oleh kebanyakan orang.   Banyak orang mendeskrpsikan kalau guru itu sosok yang mesti digugu dan ditiru.   Menurut hemat penulis pandangan semacam itu sudah tidak berlaku lagi, sebab dengan bergesernya tata nilai sosial kemasyarakatan dan perkembangan budaya dewasa ini, telah banyak mengubah nilai-nilai kepribadian seorang guru.  Kalau  dahulu digugu dan ditiru segala apa yang menjadi figur guru oleh para anak didiknya, tetapi sekarang banyak menjadi suatu tontonan dan tuntunan bagi anak didik yang mengindikasikan wagu tur saru.  Banyaknya perangai guru dan tingkah laku guru yang sudah tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang panutan bagi para siswanya.   Kejadian-kejadian yang ada dari beberapa oknum guru sebagai ilustrasi yang membuat bulu kuduk penulis berdiri.

Untuk itu peran dan fungsi guru serta posisi kedudukan guru dimata masyarakat mesti harus diperbaiki walaupun ini mungkin agak sulit.  Menurut hemat penulis, guru itu adalah ?……. Terdiri dari huruf G U R U, dalam keratabasa dalam sastra bahasa jawa menurut Ki Ronggo Warsito merupakan kepanjangan yang mengandung makna Gudang ke Utama an yang mempunyai pe Rasa an yang senantiasa Urip (hidup).

Jadi seorang guru semestinya menjadi sosok yang dapat berperan fungsi gudang (tempat menyimpan) dan mewadahi anak didiknya baik yang nakal atau yang patuh, baik yang pintar atau yang idiot, yang berperilaku soleh atau yang berandalan,  Semua dapat dirangkul dan dikemas oleh sang guru dan dicipta menjadi suatu generasi yang bermanfaat bagi nusa bangsa sesuai dengan keahlian dan bakatnya yang diajarkan dan dididik oleh sosok guru.  Jadi jangan sampai guru tidak mau mengajar dan mendidik anak-anak yang memiliki dengan segala kekurangannya.

Demikian dengan ke Utama an dari soerang guru, mestinya dapat mengendalikan diri dengan tetap istiqomah mempertahankan sifat-sifat dan tauladan tentang keutamaan (yang baik-baik).  Senantiasa menahan nafsu amarahnya, serta dapat memfilter terhadap perkembangan yang terjadi agar dia tidak terbawa arus walaupun dengan segala himpitan sosial, ekonomi dan budaya yang berkembang disekitarnya. Dia sadar sepenuhnya bahwa dirinya adalah gudang keutamaan yang ditonton oleh masyarakat serta anak didiknya.

pe Rasa an nya pada diri seorang guru mestinya senantiasa diasah, agar dapat merasakan yang terjadi pada perubahan anak didiknya, sehingga dia biasa mengarahkan siswanya sesuai dengan karakternya masing-masing.  Tidak selamanya guru mengajar dan mendidik secara kelompok / atau klasikal, sering dijumpai anak didik yang membutuhkan sentuhan dan usapan kasih sayang secara berbeda-beda satu dengan lainnya.   Oleh karena pe Rasa an seorang guru  harus hidup secara dinamis.  Dia bisa merasakan lingkungan belajarnya  sepereti apa ?  besar rasa empatinya terhadap situasi yang terjadi, bisa memilah-milah metoda dalam menghadapi berbagai macam perangai anak didiknya.

Jika semua guru telah memahami akan hal diatas saya yakin bahwa generasi muda di Indonesia (lebih khusus tamatan SMK) akan menjadi pribadi-pribadi generasi penerus yang dapat dengan bijak dalam mengembangkan diri dan karirnya, sehingga baik masyarakat maupun lingkungan nya dapat ditangani secara proporsional.  Ini adalah harapan, dan semoga……

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: